Mimpi

Seorang Pujangga:

“Mimpi”

Bayangan yang datang berulang kali itu, seakan tak kunjung hendak lekang dari ingatanku. Terus melulu diputar bak kincir angin jua komidi putar terombang-ambing dalam pontang-panting, jadi wahana yang satu padu saling jalin.

Lalu, aku pun terjaga dalam penuh awas mawas diri dari kantuk yang telah pergi. Mataku begitu jalang, menatapi tiap sudut tembok kamar yang meratapi balik pandangan.

Ku tarik selimut tebal, menelungkupkan badan, mencoba kembali hempaskan jiwa pada taman-taman bermekaran penuh semi bunga tidur.

Tak berhasil ku kembali terlelap, lalu kuseduh secangkir teh dan mereguknya selagi hangat dengan lahap di tiap sesap.

Dan tertinggalah kini, kilasan balik kembang sedap malam itu datang kembali, pada sisa-sisa serbuk pucuk yang mengendap di dasar cangkir tadi, kering tak berair lagi, hanya pertanda yang menunggu tuk dimaknai, dimengerti, dipahami.

Dingin

Seorang Pujangga:

“Dingin”

Pelukan yang dirindukan itu,
tak jua kunjung datang.

Pernah sekali waktu terbilang,
bilamana yang tersayang,
memberang.

Alih-alih hangatnya kasih,
ia menderu bengis torehkan perih,
genapkan sadis buncahkan sejuta pedih.

Dia,
pun tergolek lemah.

Tanpa daya,
tiada kuasa,
putus asa,
jua suara.

Hilang semua.

Kenangan,
jadi trauma.
Sentuhan,
ganti aniaya.

Hancuri surga,
hadiri neraka.

Dingin yang merasuki,
lebih panas dari api,
tusuki hati bertubi,
tak menyisa lagi.

Sampai malam sapa pagi,
Melulu begitu tiap hari.

Karena

Seorang Pujangga:

“Karena”

Karena tanya yang paling berat,
adalah satu yang tertengat,
di kala hari berakhir kiamat.

Karena jawab yang paling ringan,
adalah satu yang terbang,
dihela mamiri sepoi meneduhkan.

Karena neraka yang paling panas,
adalah satu yang terganas,
disapa hati lanjur mengeras.

Karena surga yang paling dekat,
adalah satu yang terletak,
di mana pijakan langkah kaki Bunda menapak.

Kembang Plastik

Anna Mathovani:

“Walaupun warnanya cantik dan rupawan, tapi tak seindah bunga asli alam. Memang indah nian, tidak pernah layu, karena bunga plastik tiruan. Kembang plastik hanya umpama, kasih sayang dari seorang. Besar niat pada mulanya, kenyataan hanya tiruan. Yang aku harapkan keaslian diri, tak usah seindah khayalan. Tak ada kala tak pernah layu, dan abadi mekar selalu. Tapi sayang tiada bermadu, dan tiada harum mewangi. Diriku tiada secantik, tetapi menarik. Jangan bagai bunga tiruan.”

Gambar yang terpajang di bagian teratas pada tulisan ini, sekilas, hanya dihubungkan oleh kesamaan judul saja, baik dengan lirik maupun video musik dari lagu yang didendangkan sang biduan pada masanya, sejak waktu jaman dahulu kala. Tapi makna tak pernah benar-benar terpisah begitu saja dari representasinya terhadap realita. “Kembang-Kembang Plastik” (1977), begitu judulnya, sebuah film lawas karya penulis naskah Arifin C. Noer yang diarahkan oleh Wim Umboh sebagai sang sutradara, ~ dikenal juga sebagai mak-comblang bagi Sophan Sophiaan dengan Widyawati yang dipertemukan dalam film “Pengantin Remaja” (1971) arahannya ~ dan beberapa nama yang tak asing lagi di dunia perfilman Indonesia sebagai bintangnya.

Belum jua kunjung menemukan sumber yang bisa jadi acuan tuk menyaksikan salah satu dari sekian banyak film klasik asli Indonesia ini, maka harapan pun tertambat pada salah satu ulasan dari era di sekitar masa pada waktu film ini rilis, yang tertulis oleh Mangunharsono SJ pada salah satu lembaran yang tersisip di  dalam harian cetak Suara Merdeka, 3 Desember 1978 silam. Ingin hati menyaksikannya, demi dapatkan lebih dalamnya makna tentang istilah ‘kembang plastik’ itu sendiri. Namun pada akhirnya tercukupilah beberapa resensi sebagai pembanding, dan ulasan Mangunharsono tentang film ini lah yang paling mengena pula di hati.

Seperti yang didendangkan oleh Anna Mathovani dalam lagunya yang juga bertajuk “Kembang Plastik”, seperti itu pula lah nuansa medan makna yang terasa ketika membayangkan seperti apa sekiranya garis besar cerita yang digambarkan oleh Arifin C. Noer dalam sinematografi vintage yang ditulisnya. Bagaimana sebuah kepalsuan hanyalah kulit dari sebuah hasrat atas impian setiap orang, terutama yang disebut sebagai wong cilik, kaum yang terpinggirkan, termajinalisasi hingga ke pinggiran kali. Usaha paling primitif, seperti transaksi sosial dengan pergantian kelamin sebagai komoditas, yang mereka upayakan pun tak jua berbuah emas. Hingga akhirnya jurus yang sama dengan yang diajarkan oleh Robin Hood pun dilakukan, jadilah kriminal atas nama kemanusiaan, demi tercapainya seribu satu impian.

Seperti yang dilantunkan oleh sang biduan,

“Kembang plastik hanya umpama, kasih sayang dari seorang. Besar niat pada mulanya, kenyataan hanya tiruan. Yang aku harapkan keaslian diri, tak usah seindah khayalan.”

Bahwa yang menjadi harapan bagi hampir semua orang adalah kenyataan yang asli, bukan tiruan apalagi khayalan. Bahwa setiap yang dikasihi maupun yang disayangi hanya harapkan tak lebih dari ketulusan, kesahajaan, apa adanya, tanpa harus menjadi abadi yang senantiasa bermekaran tak kunjung layu. Bahwa yang menjadi harapan adalah yang semerbak mewangi lagi bermadu, meski pada kalanya pun harus memati.

Semoga saja perfilman nasional sebagai salah satu representasi dari budaya bangsa, terlepas dari gembar-gembor masa depan bangsa akan kejayaan industri kreatif, pun kalau sampai harus memati, tetapi setidaknya sempat bermadu lagi mewangi, hingga ke ujung dunia sebrang benua jua samudra pun terakui.

Dari pecinta tontonan yang masih berburu karya klasik nan lawas, baik karya bangsa di tanah air, pun yang berbahasa asing di seberang sana,

TradeMark

T.

 

Sekuntum Bunga Di Meja

Seorang Pujangga:

“Sekuntum Bunga Di Meja”

Ada sekuntum bunga, tergeletak melayu begitu saja di meja. Tak seorang pun sudi menaruh peduli padanya, tak jua angin, nan mamiri jua kering, tak pun menyepoinya.

Ada sekuntum bunga, teronggok mengering begitu saja di meja. Tak seorang pun peduli mengairi asa padanya, tak jua hujan, nan rintik rimis jua miris, tak pun mencipratinya.

Ada sekuntum bunga, terdiam membisu begitu saja di meja. Tak seorang pun asa menyapa gubris padanya, tak jua kata, nan puitis manis jua melankolis, tak pun menyerapahinya.

Ada sekuntum bunga, begitu saja di meja. Ku peluk hangat tangkainya, hati-hati ku ciumi lembut daunnya. Ku cumbu mesra kelopaknya, hingga pada akhirnya ku terjatuh, betapa limbung tubuh, hingga ambruk roboh ke bawah kaki meja, saking sangat dalam ku mencintainya.

The Unrequited Memories

How long the pathways could endured by unrelated relationship? How far the journeys would went by unprepared itinerary? How great the adventure should be by unplanned expectations?

It was already autumn, the leaves were falling down below their trees. Like memories, fading away from moments, altogether framed the mosaic puzzle of life. A tunes of symphony which increasing towards the climax crescendo of such orchestra, conducted by the weather, whether it was changing, or being tamed by the transparent glass-like air conditioner, captured all the plateau bowled into such crystal ball, glittered by the evening-color-palate leaves.

There’s so much updates needed to be catching up, before winter, when everything which seems not too late to be procrastinated resolutions. As the way any cloud-computing would synchronizing all data in the library simultaneously, so did the pasts running through delicate minds, pushing through all the sweet-traumas into such binge-masochism dilemma of doubts. Eventually, something need to be sacrificed, either it might be what, when, where, which, why, or how. And awaits for the future to embrace the leftovers of unrequited memories. As requited in such Haiku by Matsuo Bashō:

“Fragile twigs,
breaking off the scarlet leaves,
autumn winds.”

Until next time,

TradeMark

T.

The Scents.

*Taufan: “Those scents of sentimental feelings, a memories of memoirs. No more geisha left, to endure the entertainment’s sake. Tokyo, becoming cold and blue, like it was before the southeast asian countries been liberated. So did my intuition, leaving you … Continue reading

The Widows.

*Taufan:

“The Black Widows,
working on its net,
webbing all the possibility,
to trap down all of The Victims.

Smoothly,
they seduce in such Eclectic Ways,
flirts the air with their sewed hanger,
floating like chandelier,
upon above table dinner of The Last Supper.”

The Dressings.

The Dressings.

*Taufan : “Here, standing still, the face of past time, walking through ages of joyful births and condolences griefs, facing the realms of the contextually cultured couture. Only they who has the face of origins ordinary smiles, sincerely innocent to … Continue reading