The Social Class

A Freedom Writer:

“The Social Class”*

She only have been here for two days, it’s not a new place for her. It’s her country home, where her nationality belongs. Her mother was an expat, and her father was a national figure here. She’s been living with her mother in this beautiful Tropical Island since born, and then she went down to the Southern Continent.

She went to the Southern Continent since Elementary School until her last year at Senior High School. She’s taking the Social Classes there; Sociology 101, Anthropology 101, etc. Then she’s taking her under graduate study at one of the greatest Philosophy institute in the rest of Tropical Island, northward from the Southern Continent; her country home of nationality; Patrilineally.

In a discussion at one of her Philosophy Classes, the lecturer gave a topic on Social Phenomenons, how Social Intervention could drove, even forced anyone traits, behaviorally speaking. How media as one of information ways formed, as Social Agent of change, could also interfere how someone think and opinionated upon issues, both locally and globally.

After graduated from her bachelor degree, then she decided to be such professional; an Anti-Social.

 

*written for Couchsurfing Writers’ Club Gathering: “Social Class”

Gaji Buta

Sang Pujangga:

“Gaji Buta”*

Ia selalu berbicara, terus menerus begitu saja, tiada hentinya. Ketika pergi ke Utara, ia berbicara, tentang dinginnya salju yang berbola-bola, menggelinding dari kecil sampai besar tak hingga. Kala berkelana ke Selatan, ia memulai singkatnya percakapan, tentang dahan-dahan yang berpelukan, saling menghangatkan dan mendamaikan. Saat ia berjemur di Pantai Timur, ia pun tak habisnya bertutur, tentang senyum-senyum bidadari jingga nan subur, yang sunggingnya buat hati siapa saja teduh terhibur. Sampai pada waktu ia berangkat ke Barat, dan tak pernah lagi terdengar kabar beritanya tersurat, kawan jua lawan tiada satu pun yang berkawat, hanya ada sangka dan praduga tersirat.

Ia yang kerap berbicara, tentang apa saja, telah hilang kini raib tak tersua. Dan mereka yang pernah mendengar kisahnya pun mulai bercerita. Tentang bola-bola salju di Utara, dahan-dahan berpelukan di Selatan, bidadari jingga pelipur lara nan subur di Timur, hingga perihal tentang ia yang menghilang tanpa sekabar pun surat kawat di Barat.

Ia yang hanya dapat berbicara, kini telah punah tiada. Karena matanya yang buta, ia hanya dapat menceritakan apa yang dikisahkan padanya.

Ia yang hidup dari bicara, sepenuh hati berkata-kata. Ia yang makan dari upah seorang pembicara.

Ia yang makan dari jerih payahnya, sendiri.

Ia yang makan gaji; Buta.

 

*written for Couchsurfing Writers’ Club Gathering: “Professions”

Manusia Hujan

Rafflesia Patma Blume

Seorang Pujangga:

“Manusia Hujan”

Pada rintik-rintik kering,
airnya menetesi hati,
yang sudah tak lagi peduli,
kemana kan dibawa pergi.

Pada banjir-banjir genang,
sesumbarnya membandang serapahi jalanan,
yang sudah tak kenal sayang,
apalagi kasih asmara pun dibuang.

Pada jauh-jauh tangis,
sedihnya mengalir sampai jauh tak kunjung habis,
yang sudah tak tau bedanya sinis dengan miris,
pun bongkahan dendam kesumat tak seiris pun terkikis.

Mereka memanggilnya Hujan,
si Manusia Hujan,
yang tak kenal cinta,
hanya mampu raba rasa.

Peluk

Sang Pujangga:

“Peluk”*

Diam-diam,
Kau tumbuhkan rasa nan terpendam,
pada relung-relung hati terdalam.

Malu-malu,
Kau utarakan maksud ingin Mu,
buncahan asmara berbuah mau.

Tiba-tiba,
Kau pergi tinggalkan Aku begitu saja,
tanpa kabar sepatah kata,
nun jauh di seberang benua.

Alih-alih,
hapuskan asa tuk merajut kasih,
Ku kirimkan untaian kisah anti-sedih,
karena bahagia Mu di sana adalah gembira Ku di sini.

Bye-bye,
until we meet again eye to eye,
this love will always be our Princess of Shy,
hugging you so warm and tight,
no matter how far the distance apart us away out of sights.

 

*written for Couchsurfing Writers’ Club Gathering: “LDR” (Long-Distant Relationship)

Angkasa

Seorang Pujangga:

“Angkasa”

Di antara sekian yang tak hingga
Ada kah satu yang masih tersisa?

Waktu yang telah pergi berlalu
Atap yang tak lagi berpintu
Kemanakah kunci jendela?

Pada teralis besi yang batasi
Jarak antara tadi dan nanti
Pagari apa yang hakiki
Masih ada kah arti?

Katanya,
Di mana bumi dipijak,
Di sana pula lah langit disimak
Tapi angkasa tak pernah sudi lagi peduli
Manusia hanyalah senoktah titik tak bernilai

Gugusan bintang tersibak
Seperti yang dikisahkan para penyajak
Dari satu mulut ke telinga orang banyak

Tentang para penguasa
Tentang para pecinta
Yang didamba,
Jua dinista

Tak satu pun berakhir bahagia
Bahkan para malaikat cuma menertawa
Bahwa cuma mereka yang menanggungnya
Merana di keabadian selamanya

Sampai datang para panglima
Busung dada gencarkan senjata
Bubungkan pemusnah asa setingginya
Bukan tuk bunuhi umat manusia
Melainkan gelap gulitakan angkasa

Tak ada lagi matahari
Begitu pun rembulan yang sudi
Bak kasih Ibu sepanjang masa terangi
Sudah terlambat semua telah padam kini

Segala yang terlupa diambil paksa
Pun tak terima tetap saja para panglima
Titahkan segala perintah larangan terkuasa

Tinggalah kini harapan tersisa
Pada genggaman setangkup cahaya;

Cinta.

Lara

Seorang Pujangga:

“Lara”

Pada pucuk pucuk rindu, dan putik putik rasa, yang berguliran terbang, melayang terbawa angin tak tentu arah…

Ada yang hilang tak terbilang, genapi yang ganjil lagi ganjal tak tertahan, mendesak hendak meresak keluar dari rongga rongga nan sesak penuh isak…

Ada yang menggantung nyaris gugur, menggelayuti sejuta pelangi membusur, lembayungi topeng topeng kaca sejuta persona para bidadari jingga, diam terpaku kaku terbujur…

Ada yang terkenang sampai sekarang, dan untaian kata yang tak lagi sempat tertutur ujar tersampaikan, menunggu tuk bertemu kembali, suatu saat pada waktunya nanti,

Hingga tiba kala sang hari.

Mimpi

Seorang Pujangga:

“Mimpi”

Bayangan yang datang berulang kali itu, seakan tak kunjung hendak lekang dari ingatanku. Terus melulu diputar bak kincir angin jua komidi putar terombang-ambing dalam pontang-panting, jadi wahana yang satu padu saling jalin.

Lalu, aku pun terjaga dalam penuh awas mawas diri dari kantuk yang telah pergi. Mataku begitu jalang, menatapi tiap sudut tembok kamar yang meratapi balik pandangan.

Ku tarik selimut tebal, menelungkupkan badan, mencoba kembali hempaskan jiwa pada taman-taman bermekaran penuh semi bunga tidur.

Tak berhasil ku kembali terlelap, lalu kuseduh secangkir teh dan mereguknya selagi hangat dengan lahap di tiap sesap.

Dan tertinggalah kini, kilasan balik kembang sedap malam itu datang kembali, pada sisa-sisa serbuk pucuk yang mengendap di dasar cangkir tadi, kering tak berair lagi, hanya pertanda yang menunggu tuk dimaknai, dimengerti, dipahami.

Dingin

Seorang Pujangga:

“Dingin”

Pelukan yang dirindukan itu,
tak jua kunjung datang.

Pernah sekali waktu terbilang,
bilamana yang tersayang,
memberang.

Alih-alih hangatnya kasih,
ia menderu bengis torehkan perih,
genapkan sadis buncahkan sejuta pedih.

Dia,
pun tergolek lemah.

Tanpa daya,
tiada kuasa,
putus asa,
jua suara.

Hilang semua.

Kenangan,
jadi trauma.
Sentuhan,
ganti aniaya.

Hancuri surga,
hadiri neraka.

Dingin yang merasuki,
lebih panas dari api,
tusuki hati bertubi,
tak menyisa lagi.

Sampai malam sapa pagi,
Melulu begitu tiap hari.

Karena

Seorang Pujangga:

“Karena”

Karena tanya yang paling berat,
adalah satu yang tertengat,
di kala hari berakhir kiamat.

Karena jawab yang paling ringan,
adalah satu yang terbang,
dihela mamiri sepoi meneduhkan.

Karena neraka yang paling panas,
adalah satu yang terganas,
disapa hati lanjur mengeras.

Karena surga yang paling dekat,
adalah satu yang terletak,
di mana pijakan langkah kaki Bunda menapak.

Sekuntum Bunga Di Meja

Seorang Pujangga:

“Sekuntum Bunga Di Meja”

Ada sekuntum bunga, tergeletak melayu begitu saja di meja. Tak seorang pun sudi menaruh peduli padanya, tak jua angin, nan mamiri jua kering, tak pun menyepoinya.

Ada sekuntum bunga, teronggok mengering begitu saja di meja. Tak seorang pun peduli mengairi asa padanya, tak jua hujan, nan rintik rimis jua miris, tak pun mencipratinya.

Ada sekuntum bunga, terdiam membisu begitu saja di meja. Tak seorang pun asa menyapa gubris padanya, tak jua kata, nan puitis manis jua melankolis, tak pun menyerapahinya.

Ada sekuntum bunga, begitu saja di meja. Ku peluk hangat tangkainya, hati-hati ku ciumi lembut daunnya. Ku cumbu mesra kelopaknya, hingga pada akhirnya ku terjatuh, betapa limbung tubuh, hingga ambruk roboh ke bawah kaki meja, saking sangat dalam ku mencintainya.