Angkasa

Seorang Pujangga:

“Angkasa”

Di antara sekian yang tak hingga
Ada kah satu yang masih tersisa?

Waktu yang telah pergi berlalu
Atap yang tak lagi berpintu
Kemanakah kunci jendela?

Pada teralis besi yang batasi
Jarak antara tadi dan nanti
Pagari apa yang hakiki
Masih ada kah arti?

Katanya,
Di mana bumi dipijak,
Di sana pula lah langit disimak
Tapi angkasa tak pernah sudi lagi peduli
Manusia hanyalah senoktah titik tak bernilai

Gugusan bintang tersibak
Seperti yang dikisahkan para penyajak
Dari satu mulut ke telinga orang banyak

Tentang para penguasa
Tentang para pecinta
Yang didamba,
Jua dinista

Tak satu pun berakhir bahagia
Bahkan para malaikat cuma menertawa
Bahwa cuma mereka yang menanggungnya
Merana di keabadian selamanya

Sampai datang para panglima
Busung dada gencarkan senjata
Bubungkan pemusnah asa setingginya
Bukan tuk bunuhi umat manusia
Melainkan gelap gulitakan angkasa

Tak ada lagi matahari
Begitu pun rembulan yang sudi
Bak kasih Ibu sepanjang masa terangi
Sudah terlambat semua telah padam kini

Segala yang terlupa diambil paksa
Pun tak terima tetap saja para panglima
Titahkan segala perintah larangan terkuasa

Tinggalah kini harapan tersisa
Pada genggaman setangkup cahaya;

Cinta.

Lara

Seorang Pujangga:

“Lara”

Pada pucuk pucuk rindu, dan putik putik rasa, yang berguliran terbang, melayang terbawa angin tak tentu arah…

Ada yang hilang tak terbilang, genapi yang ganjil lagi ganjal tak tertahan, mendesak hendak meresak keluar dari rongga rongga nan sesak penuh isak…

Ada yang menggantung nyaris gugur, menggelayuti sejuta pelangi membusur, lembayungi topeng topeng kaca sejuta persona para bidadari jingga, diam terpaku kaku terbujur…

Ada yang terkenang sampai sekarang, dan untaian kata yang tak lagi sempat tertutur ujar tersampaikan, menunggu tuk bertemu kembali, suatu saat pada waktunya nanti,

Hingga tiba kala sang hari.

Mimpi

Seorang Pujangga:

“Mimpi”

Bayangan yang datang berulang kali itu, seakan tak kunjung hendak lekang dari ingatanku. Terus melulu diputar bak kincir angin jua komidi putar terombang-ambing dalam pontang-panting, jadi wahana yang satu padu saling jalin.

Lalu, aku pun terjaga dalam penuh awas mawas diri dari kantuk yang telah pergi. Mataku begitu jalang, menatapi tiap sudut tembok kamar yang meratapi balik pandangan.

Ku tarik selimut tebal, menelungkupkan badan, mencoba kembali hempaskan jiwa pada taman-taman bermekaran penuh semi bunga tidur.

Tak berhasil ku kembali terlelap, lalu kuseduh secangkir teh dan mereguknya selagi hangat dengan lahap di tiap sesap.

Dan tertinggalah kini, kilasan balik kembang sedap malam itu datang kembali, pada sisa-sisa serbuk pucuk yang mengendap di dasar cangkir tadi, kering tak berair lagi, hanya pertanda yang menunggu tuk dimaknai, dimengerti, dipahami.

Dingin

Seorang Pujangga:

“Dingin”

Pelukan yang dirindukan itu,
tak jua kunjung datang.

Pernah sekali waktu terbilang,
bilamana yang tersayang,
memberang.

Alih-alih hangatnya kasih,
ia menderu bengis torehkan perih,
genapkan sadis buncahkan sejuta pedih.

Dia,
pun tergolek lemah.

Tanpa daya,
tiada kuasa,
putus asa,
jua suara.

Hilang semua.

Kenangan,
jadi trauma.
Sentuhan,
ganti aniaya.

Hancuri surga,
hadiri neraka.

Dingin yang merasuki,
lebih panas dari api,
tusuki hati bertubi,
tak menyisa lagi.

Sampai malam sapa pagi,
Melulu begitu tiap hari.

Karena

Seorang Pujangga:

“Karena”

Karena tanya yang paling berat,
adalah satu yang tertengat,
di kala hari berakhir kiamat.

Karena jawab yang paling ringan,
adalah satu yang terbang,
dihela mamiri sepoi meneduhkan.

Karena neraka yang paling panas,
adalah satu yang terganas,
disapa hati lanjur mengeras.

Karena surga yang paling dekat,
adalah satu yang terletak,
di mana pijakan langkah kaki Bunda menapak.

Kembang Plastik

Anna Mathovani:

“Walaupun warnanya cantik dan rupawan, tapi tak seindah bunga asli alam. Memang indah nian, tidak pernah layu, karena bunga plastik tiruan. Kembang plastik hanya umpama, kasih sayang dari seorang. Besar niat pada mulanya, kenyataan hanya tiruan. Yang aku harapkan keaslian diri, tak usah seindah khayalan. Tak ada kala tak pernah layu, dan abadi mekar selalu. Tapi sayang tiada bermadu, dan tiada harum mewangi. Diriku tiada secantik, tetapi menarik. Jangan bagai bunga tiruan.”

Gambar yang terpajang di bagian teratas pada tulisan ini, sekilas, hanya dihubungkan oleh kesamaan judul saja, baik dengan lirik maupun video musik dari lagu yang didendangkan sang biduan pada masanya, sejak waktu jaman dahulu kala. Tapi makna tak pernah benar-benar terpisah begitu saja dari representasinya terhadap realita. “Kembang-Kembang Plastik” (1977), begitu judulnya, sebuah film lawas karya penulis naskah Arifin C. Noer yang diarahkan oleh Wim Umboh sebagai sang sutradara, ~ dikenal juga sebagai mak-comblang bagi Sophan Sophiaan dengan Widyawati yang dipertemukan dalam film “Pengantin Remaja” (1971) arahannya ~ dan beberapa nama yang tak asing lagi di dunia perfilman Indonesia sebagai bintangnya.

Belum jua kunjung menemukan sumber yang bisa jadi acuan tuk menyaksikan salah satu dari sekian banyak film klasik asli Indonesia ini, maka harapan pun tertambat pada salah satu ulasan dari era di sekitar masa pada waktu film ini rilis, yang tertulis oleh Mangunharsono SJ pada salah satu lembaran yang tersisip diĀ  dalam harian cetak Suara Merdeka, 3 Desember 1978 silam. Ingin hati menyaksikannya, demi dapatkan lebih dalamnya makna tentang istilah ‘kembang plastik’ itu sendiri. Namun pada akhirnya tercukupilah beberapa resensi sebagai pembanding, dan ulasan Mangunharsono tentang film ini lah yang paling mengena pula di hati.

Seperti yang didendangkan oleh Anna Mathovani dalam lagunya yang juga bertajuk “Kembang Plastik”, seperti itu pula lah nuansa medan makna yang terasa ketika membayangkan seperti apa sekiranya garis besar cerita yang digambarkan oleh Arifin C. Noer dalam sinematografi vintage yang ditulisnya. Bagaimana sebuah kepalsuan hanyalah kulit dari sebuah hasrat atas impian setiap orang, terutama yang disebut sebagai wong cilik, kaum yang terpinggirkan, termajinalisasi hingga ke pinggiran kali. Usaha paling primitif, seperti transaksi sosial dengan pergantian kelamin sebagai komoditas, yang mereka upayakan pun tak jua berbuah emas. Hingga akhirnya jurus yang sama dengan yang diajarkan oleh Robin Hood pun dilakukan, jadilah kriminal atas nama kemanusiaan, demi tercapainya seribu satu impian.

Seperti yang dilantunkan oleh sang biduan,

“Kembang plastik hanya umpama, kasih sayang dari seorang. Besar niat pada mulanya, kenyataan hanya tiruan. Yang aku harapkan keaslian diri, tak usah seindah khayalan.”

Bahwa yang menjadi harapan bagi hampir semua orang adalah kenyataan yang asli, bukan tiruan apalagi khayalan. Bahwa setiap yang dikasihi maupun yang disayangi hanya harapkan tak lebih dari ketulusan, kesahajaan, apa adanya, tanpa harus menjadi abadi yang senantiasa bermekaran tak kunjung layu. Bahwa yang menjadi harapan adalah yang semerbak mewangi lagi bermadu, meski pada kalanya pun harus memati.

Semoga saja perfilman nasional sebagai salah satu representasi dari budaya bangsa, terlepas dari gembar-gembor masa depan bangsa akan kejayaan industri kreatif, pun kalau sampai harus memati, tetapi setidaknya sempat bermadu lagi mewangi, hingga ke ujung dunia sebrang benua jua samudra pun terakui.

Dari pecinta tontonan yang masih berburu karya klasik nan lawas, baik karya bangsa di tanah air, pun yang berbahasa asing di seberang sana,

TradeMark

T.